20 Februari Sleman — Seorang pengurus Koperasi Desa Merah Putih menyampaikan analisis sederhana terkait tantangan operasional koperasi berbasis desa. Dalam perhitungannya, koperasi yang memiliki pinjaman sekitar Rp3 miliar dengan bunga 4% per tahun harus menyiapkan angsuran sekitar Rp50 juta per bulan.
Dengan margin usaha rata-rata 3–5%, koperasi diperkirakan perlu membukukan omzet antara Rp1 miliar hingga Rp1,6 miliar per bulan. Artinya, perputaran harian bisa mencapai lebih dari Rp30 juta secara stabil.
“Secara hitungan ekonomi, ini bukan tidak mungkin. Tapi pertanyaannya, apakah daya beli desa sebesar itu dan stabil setiap hari?” ungkapnya.

Di banyak desa, aktivitas ekonomi masih didominasi transaksi kecil harian. Sebagian pengurus koperasi juga berlatar belakang usaha mikro, bukan bisnis skala besar.
Jika target tidak tercapai, beberapa skenario risiko mulai muncul:
-
Arus kas tertekan
-
Penundaan pembayaran angsuran
-
Kepercayaan anggota menurun
-
Operasional terpaksa dikurangi
Dalam skenario terburuk, tekanan pembiayaan bahkan bisa berdampak pada kemampuan fiskal desa jika harus ikut menopang.
Pengamat ekonomi desa menyebut kondisi ini sebagai potensi crowding out, yaitu ketika anggaran pembangunan tersedot untuk menutup risiko usaha.
Dampaknya bisa berupa:
-
Program infrastruktur tertunda
-
Kegiatan pemberdayaan dipangkas
-
Prioritas pembangunan bergeser
Namun demikian, para pelaku di lapangan menegaskan bahwa analisis ini bukan bentuk pesimisme.

“Ini bukan keluhan, tapi upaya menjaga koperasi tetap sehat. Optimisme perlu, tapi hitungan juga harus masuk akal,” ujarnya.
Meski tantangan cukup besar, koperasi desa tetap memiliki peluang jika didukung:
-
Manajemen profesional
-
Model bisnis sesuai potensi lokal
-
Penguatan pasar anggota
-
Pengawasan keuangan yang ketat
Karena pada akhirnya, koperasi bukan hanya soal bangunan dan modal besar, tetapi tentang kepercayaan dan perputaran ekonomi nyata di masyarakat.
|Kabiro Kediri Kota














