KEDIRI – Tradisi budaya kembali menguat di Kota Kediri. Paguyuban Sisep Suku Sepuh Kediri Kota menggelar Wilujengan Wuku Manahil Cikal Bakal Kamardikan, Kamis malam ini, 12 Februari 2026, bertempat di depan Gua Selomangleng, salah satu situs bersejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya.
Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB hingga selesai ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh budaya, paguyuban, hingga warga Kediri dan sekitarnya. Kegiatan ini menjadi ruang syukuran bersama sekaligus refleksi nilai-nilai leluhur yang diyakini sebagai bagian dari perjalanan budaya Bumi Kadiri.
Berdasarkan undangan resmi yang di tampilakan kepada kabiro Kediri Kota Wawan Hendrawan dari ketua Agung Sukojo, Wilujengan Wuku Manahil digelar bertepatan dengan Kamis Kliwon malam Jumat (Sukro Umanis), sebuah waktu yang secara adat Jawa dipercaya memiliki makna spiritual mendalam. Ketua Paguyuban Sisepsuku Sepuh Kediri Kota, Agung Sukojo, menandatangani langsung undangan sebagai bentuk tanggung jawab dan legitimasi adat kegiatan tersebut.

Rangkaian Acara Sarat Makna
Mengacu pada rundown acara, kegiatan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pambuko atau pembukaan oleh MC dengan suasana sakral. Acara kemudian berlanjut pada sabda tombo, berupa wejangan dari tokoh sepuh budaya yang menjelaskan filosofi Kamardikan serta makna spiritual Wuku Manahil.
Puncak acara diisi dengan doa inti menggunakan bahasa Jawa Krama, sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan tradisi leluhur. Selanjutnya dilakukan potong tumpeng, yang dimaknai sebagai simbol puncak rasa syukur dan harapan keberlanjutan generasi, baik generasi sepuh maupun generasi muda sebagai estafet budaya.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti kembul bujana, atau makan bersama, yang menjadi simbol kebersamaan, kesetaraan, dan persaudaraan lintas paguyuban serta masyarakat.

Didukung Banyak Paguyuban dan Komunitas
Poster acara bertajuk “Putra Putri Wayah Sambung Sambang Leluhur Bumi Kadhiri” menunjukkan dukungan luas dari berbagai paguyuban budaya dan komunitas, di antaranya Budoyo Jawi, Paguyuban Pirukunan Triloka, serta sejumlah paguyuban lintas daerah seperti Mojokerto dan wilayah lain di Jawa Timur.
Kegiatan ini juga mengangkat siklus penanggalan Jawa 7-8-9-4-5, yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan perjalanan nilai budaya dan spiritual masyarakat Jawa.
Ruang Budaya, Bukan Sekadar Ritual
Wilujengan Wuku Manahil bukan sekadar ritual adat, namun menjadi ruang edukasi budaya, penguatan identitas lokal, serta ajang silaturahmi lintas generasi. Dengan memilih lokasi Gua Selomangleng, penyelenggara ingin menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara sejarah, alam, dan manusia.
Acara ini sekaligus menegaskan bahwa budaya Jawa masih hidup, dirawat, dan terus diwariskan secara terbuka, damai, serta inklusif kepada masyarakat luas.














