Situbondo – Sebuah malam yang biasa saja berubah menjadi titik awal sebuah perubahan bagi sebuah keluarga. Keheningan Desa yang seharusnya berjalan seperti malam-malam lainnya, tiba-tiba terpecah oleh langkah-langkah kecil namun bermakna besar. Di baliknya bukan pejabat negara atau proyek-proyek dengan anggaran besar, melainkan Pokdar Kamtibmas Bhayangkara yang memilih untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan warga Trebungan, kecamatan Mangaran, Sabtu (2/5/2026).
Kepemimpinan Haji Ismail, Ketua Pokdar Kamtibmas Bhayangkara Polres Situbondo, membuktikan bahwa keamanan sosial bukan hanya soal patroli atau penegakan hukum. Ada dimensi kemanusiaan yang lebih dalam, yakni memastikan setiap orang memiliki akses dasar untuk hidup layak.
Malam Itu, Berbagi Harapan
Semuanya dimulai dengan laporan sederhana yang nyaris tenggelam dalam rutinitas harian. Seorang anggota Pokdar Kamtibmas Azis Chemoth melaporkan kondisi keluarga Askim di Desa Trebungan yang hidup dalam keterbatasan ekstrem: rumah yang tak layak huni, tanpa listrik, dan penuh dengan kesulitan ekonomi. Tanpa prosedur rumit, keputusan segera diambil. Sebuah rombongan langsung berangkat malam itu juga.
Begitu tiba di rumah Askim, kenyataan jauh lebih memilukan daripada yang dibayangkan. Seorang putri remaja tinggal di rumah yang gelap tanpa lampu listrik di samping kuburan yang luas dan sering di tinggal sendirian oleh orang tuanya karena mencari nafkah. Di tengah dunia yang semakin terang oleh teknologi, rumah Askim justru tenggelam dalam kegelapan.
Kisah Kehidupan Askim dan Ayu: Harapan dalam Keterbatasan
Askim, seorang ayah tunggal, telah berjuang sendirian sejak kepergian istrinya. Ia memikul beban berat: memberi kehidupan yang layak bagi dua anaknya di tengah keterbatasan ekonomi. Namun di balik derita itu, ada harapan yang belum padam putri sulungnya, Ayu, memiliki cita-cita yang sederhana namun sangat berarti: melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, di tengah kegelapan yang melingkupi mereka, mimpi itu terasa seperti sebuah utopia yang tak terjangkau.
Di sinilah tindakan nyata dimulai. Haji Ismail tidak datang hanya untuk memberi simpati, tetapi untuk bertindak. “Rumah ini tidak bisa dibiarkan seperti ini. Ini bukan sekadar bangunan, ini soal martabat hidup,” tegasnya. Langkah pertama dimulai dengan pengukuran rumah untuk memulai proses perbaikan.
Langkah Haji Ismail: Dari Simbol Menjadi Aksi
Lebih dari sekadar melakukan rutinitas keamanan, Pokdar Kamtibmas melangkah lebih jauh menjadi aktor sosial. Mereka tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi di lapangan, tanpa sorotan media atau pengumuman formal. Haji Ismail bahkan menambahkan, “Saya akan upayakan juga soal listriknya. Jujur, ini membuat saya heran di zaman sekarang masih ada yang hidup tanpa lampu.”
Pernyataan ini mengandung kritik terhadap ketimpangan distribusi pembangunan yang masih menyisakan ruang gelap di banyak daerah. Bagi banyak orang, akses listrik adalah hal yang wajar, tetapi bagi keluarga Askim, itu adalah mimpi yang belum tercapai.
Empati yang Menggerakkan: Tindakan Nyata di Lapangan
Kehadiran Pokdar Kamtibmas di rumah Askim bukan sekadar memberi bantuan. Lebih dari itu, mereka memberikan validasi bahwa meski terpinggirkan, Askim dan keluarganya masih dihargai. “Terima kasih banyak. Kami tidak menyangka ada yang datang dan peduli seperti ini,” ungkap Askim dengan mata yang berlinang.
Bagi Ayu, meski jalan menuju pendidikan tinggi masih panjang, ia kini tidak lagi merasa sendirian. Ada tangan-tangan yang mulai menopang mimpinya, memberikan secercah harapan untuk masa depan.
Pelajaran dari Desa Trebungan: Perubahan Bisa Dimulai dari Langkah Kecil
Kisah ini mengajarkan kita bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dengan kebijakan besar. Terkadang, perubahan dimulai dari tindakan kecil yang dipenuhi dengan empati dan ketulusan. Haji Ismail dan Pokdar Kamtibmas membuktikan bahwa untuk menciptakan perubahan sosial, tidak perlu menunggu instruksi dari atas. Tindakan langsung di lapangan, yang bersentuhan dengan masalah nyata, dapat membawa dampak yang jauh lebih besar.
Di Desa Trebungan, tadi malam, tidak ada seremoni, hanya ada gelap dan sekelompok orang yang memilih untuk tidak pergi begitu saja. Dari situ, cahaya mulai muncul bukan hanya dari rencana pemasangan listrik, tetapi dari kesadaran bahwa di tengah keterbatasan, kemanusiaan masih ada, masih bekerja.
Harapan yang Kembali Dibangun
Malam itu, di tengah Desa Trebungan yang sunyi, harapan kembali ditemukan. Ini adalah cerita tentang sebuah keluarga yang, meski terpinggirkan, tidak ditinggalkan. Sebuah cerita yang mengingatkan kita semua bahwa kebaikan, bahkan yang terkecil sekalipun, dapat memberikan cahaya di saat yang paling gelap.














