global.i-news.site
BANYUWANGI – Menjelang puncak musim kemarau, sejumlah petani di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, mengeluhkan lambatnya proses pengurusan barcode untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar. Keterlambatan ini memicu kekhawatiran akan gagal panen, khususnya pada komoditas jagung dan cabai yang membutuhkan pasokan air rutin melalui pompa air berbahan bakar solar.
Hanipan Seorang warga petani di Wongsorejo mengungkapkan kecemasannya kepada global news , Senin (18/5/2026). Menurutnya, antrean dan proses verifikasi yang berjalan lambat membuat banyak petani belum bisa mengakses solar subsidi tepat waktu.
“Pengurusan barcode di Wongsorejo memang terasa agak lama. Kami berharap agar prosesnya bisa lebih cepat karena sebentar lagi sudah memasuki kemarau,” keluhnya.
Ia menambahkan, dampak nyata dari keterlambatan ini sudah mulai terlihat di lahan pertanian. “Hawatir tanaman jagung dan lombok (cabai) sudah mulai banyak yang mengering. Terlambatnya pembuatan barcode sangat berdampak pada kondisi tanaman kami,” tambahnya dengan nada prihatin.
Klarifikasi kepala BPP Wongsorejo: melalui Hariri Membludaknya Pendaftar
Menanggapi tumpukan keluhan tersebut, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Wongsorejo memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa pihak BPP berperan sebagai fasilitator pendataan awal. Setiap petani yang mendaftar dan memenuhi persyaratan administratif akan langsung dimasukkan ke dalam sistem database.
“Kami hanya mendata. Siapapun yang mendaftar setelah memenuhi persyaratan, kami masukkan datanya. Namun, karena pendaftar terlalu banyak, maka harus antri dan mohon kesabarannya,” ungkap Kepala BPP Wongsorejo saat dikonfirmasi di kantornya
Dinas Pertanian: Target 200 Barcode/Hari, Ada Kendala Teknis
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, melalui telepon WhatsApp pada Senin (18/5/2026), mengakui adanya sedikit keterlambatan akibat kendala teknis pada sistem aplikasi. Namun, ia memastikan bahwa dinas telah bekerja keras untuk mengejar target penyelesaian data.
“Terkait pengajuan barcode BBM subsidi, pihak kepala dinas sudah banyak menyelesaikannya. Kami menargetkan hampir 150 sampai 200 barcode selesai diproses setiap harinya,” dan mencapai 300 % petani Wongsorejo yang mendaftarkan ujar Danang Hartanto.
Danang menjelaskan bahwa faktor utama keterlambatan adalah seringnya terjadi error atau gangguan pada sistem digital yang digunakan. Meski demikian, ia memberikan jaminan bahwa seluruh pengajuan yang memenuhi prosedur akan disetujui.
“Insyaallah pengajuan akan di-ACC semuanya, yang penting sesuai prosedur pada saat pengajuan,” tegasnya.
Namun, Danang juga memberi peringatan keras terkait integritas penggunaan subsidi. Ia menyatakan bahwa persetujuan barcode bukan berarti bebas dari pengawasan.
“Perlu diingat, di kemudian hari juga akan ada pencabutan barcode jika ditemukan tidak sesuai peruntukannya. Jadi, gunakanlah solar subsidi ini sesuai ketentuan, yaitu untuk sektor pertanian dan perikanan,” pungkasnya.
Dengan semakin dekatnya musim kemarau, petani Wongsorejo berharap koordinasi antara Dinas Pertanian, BPP, dan penyedia BBM dapat dipercepat agar irigasi lahan pertanian tetap terjaga dan hasil panen tidak terancam gagal.














