global.i-news.site
BANYUWANGI – Seiring dengan semakin ketatnya pengawasan dan penerapan sistem barcode atau QR Code untuk penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, banyak petani yang kini mulai mempertimbangkan alternatif lain untuk kebutuhan operasional di lahan mereka. Salah satu perubahan signifikan yang terlihat adalah perpindahan penggunaan tenaga mesin berbahan solar ke tenaga listrik.
Banyak petani kini beralih menggunakan pompa air yang digerakkan oleh tenaga listrik untuk keperluan irigasi dan menyirami tanah pertanian mereka. Langkah ini dinilai lebih efisien dan praktis, mengingat proses pengurusan izin serta pendaftaran barcode untuk mendapatkan BBM subsidi saat ini dirasa cukup rumit dan memakan waktu.
Dengan memanfaatkan tenaga listrik, petani tidak perlu lagi repot mengurus administrasi maupun antre untuk mendapatkan kuota solar subsidi. Air yang dibutuhkan untuk membasahi tanah dan menjaga kesuburan tanaman dapat langsung dialirkan dengan cepat menggunakan pompa listrik, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga tanpa harus bergantung pada bahan bakar fosil.
Perubahan pola ini menunjukkan adaptasi para petani terhadap kebijakan pemerintah, sekaligus upaya untuk menekan biaya operasional serta memastikan pasokan air ke lahan pertanian tetap lancar.
Penerapan sistem barcode atau QR Code dalam penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ternyata membawa dampak signifikan bagi dunia pertanian. Banyak petani kini mulai meninggalkan penggunaan mesin berbahan bakar solar dan beralih memanfaatkan tenaga listrik untuk operasional di lahan mereka.
Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah penggunaan pompa air atau yang sering disebut “Sibel”. Alat ini kini banyak digunakan petani untuk mengangkat dan mengalirkan air guna menyirami tanah pertanian mereka. Langkah ini diambil sebagai solusi praktis di tengah prosedur pengurusan barcode yang dirasa cukup rumit dan memakan waktu.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Nurhadi, Warga Desa Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi salah seorang petani setempat membenarkan hal tersebut. Dengan penuh keyakinan ia mengangguk saat ditanya mengenai perpindahan penggunaan energi di lahannya.
“Benar, memang sekarang sudah banyak yang beralih. Saya sendiri sudah tidak lagi mengandalkan mesin diesel berbahan solar. Sekarang saya pakai tenaga listrik untuk menjalankan pompa air (Sibel) menyiram tanaman,”* ujar Nurhadi sambil mengangguk membenarkan, Jum’at (24/04).
Menurutnya, dengan beralih ke listrik, dirinya tidak perlu lagi direpotkan dengan urusan administrasi, antre, atau mengurus syarat-syarat untuk mendapatkan kuota solar subsidi. Proses penyiraman lahan pun menjadi lebih cepat, praktis, dan biayanya dinilai lebih efisien.
Perubahan pola ini menunjukkan adaptasi para petani terhadap kebijakan pemerintah, sekaligus upaya untuk menekan biaya operasional serta memastikan pasokan air ke lahan pertanian tetap lancar tanpa hambatan.














