Redaksi global.i-news.site – Warga sebuah kebun yang biasanya hanya ribut oleh jangkrik, mangga jatuh, dan gosip ringan, mendadak heboh setelah sebuah clurit muncul tanpa undangan. Clurit itu tidak lama-lama, tapi dampaknya panjang, berliku, dan bikin rasa aman bertingkah aneh.
Menurut keterangan yang setengah jelas setengah dramatis, clurit tersebut tidak melukai siapa pun. Namun rasa aman langsung panik, lari ke dapur, lalu loncat-loncat di atas meja makan sambil teriak, “Ini bukan simulasi!”

“Cluritnya cuma sebentar,” kata seorang warga. “Tapi takutnya seperti cicilan, panjang dan bikin mikir tiap malam.”
Beberapa warga mengaku tetap tenang. Tenang versi mereka, yakni wajah datar tapi jantung bekerja lembur sampai shift malam. Ada juga yang mengira itu cuma salah lihat, sampai rasa aman benar-benar menghilang dan belum pulang.
Tak lama kemudian, negara hadir dengan formasi lengkap. Ada map cokelat, pulpen hitam, dan ekspresi serius yang membuat situasi terasa resmi meski belum tentu menenangkan. Semua dicatat. Semua diberi nomor. Semua tampak tertib.
“Tenang saja, semuanya sudah tercatat,” ujar seseorang dengan nada yang sangat tercatat, sampai rasa aman yang loncat-loncat tadi diminta turun dari meja dan antre.
Sayangnya, rasa aman belum bisa diwawancarai. Diduga masih sibuk menenangkan diri, minum air putih, lalu kembali loncat-loncat di atas meja makan karena mendengar kata “proses”.
Bagong, yang kebetulan lewat sambil membawa logika rakyat kelas ekonomi, ikut berkomentar.
“Kalau polanya begini, saya sudah hafal,” katanya. “Kejadian dulu, takut dulu, laporan dulu, terus rasa aman disuruh sabar.”
Sementara itu, Semar yang terkenal bijak mencoba meredakan suasana.

“Semua tenang,” ujarnya. “Yang penting kita belajar bersama. Belajar sabar, belajar waspada, dan belajar tidak loncat-loncat di atas meja makan… kecuali benar-benar panik.”
Para pengamat kebun independen menyimpulkan bahwa di negeri ini ada tiga hal yang cepat bergerak: ancaman, formulir, dan rasa takut. Sedangkan rasa aman dikenal pemalu, sering datang belakangan, dan mudah kaget sampai naik meja.
Hingga berita ini diturunkan, clurit belum memberikan keterangan resmi. Rasa aman terakhir terlihat sedang duduk di pojok dapur, napasnya masih ngos-ngosan. Mangga dilaporkan masih menunggu dipanen sambil berharap situasi kembali normal dan meja makan kembali berfungsi sebagaimana mestinya.
Redaksi global.i-news.site mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan jika rasa aman kembali, mohon diturunkan dari meja makan secara perlahan.
CATATAN REDAKSI
Tulisan ini adalah parodi, tidak merujuk pada peristiwa, tokoh, atau lokasi nyata. Jika tertawa keras, berarti sukses. Jika sampai loncat, harap turun pelan-pelan.
Penulis: Yono














