Jombang – Di ujung rangkaian Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama, suasana khidmat, haru, dan penuh penghormatan menyelimuti Pendopo Kabupaten Jombang. Rangkaian perjalanan spiritual dan historis yang menelusuri jejak para muassis Nahdlatul Ulama dari Bangkalan hingga Jombang itu mencapai puncaknya dengan prosesi penyambutan istimewa terhadap Kiai Haji Raden Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
Kehadiran ulama kharismatik tersebut disambut dengan kereta kencana, simbol kehormatan dan kemuliaan tradisi Nusantara yang sarat makna filosofis. Penyambutan ini tidak sekadar seremoni kebudayaan, melainkan wujud penghormatan mendalam kepada ulama sebagai pewaris perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama, penjaga sanad keilmuan, moral, dan kebangsaan yang hingga kini tetap hidup dalam denyut pesantren.
Prosesi tersebut menjadi penutup yang sarat makna dari napak tilas yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan ideologis. Sejak dimulai dari Bangkalan, Madura, tanah kelahiran Syaichona KH Mohammad Cholil, ulama besar inspirator lahirnya NU, hingga Jombang, perjalanan ini menjadi pengingat kuat akan peran sentral ulama dalam membangun peradaban Islam Nusantara yang moderat, berakar pada tradisi, dan berpijak pada cinta tanah air.
Kereta kencana itu secara khusus mengantar KHR Ahmad Azaim Ibrahimy menuju Pondok Pesantren Tebuireng, pesantren legendaris yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh sentral berdirinya NU pada 1926. Tebuireng bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan simpul sejarah pergerakan ulama yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan karakter bangsa, serta peneguhan Islam rahmatan lil ‘alamin.
Dari pesantren inilah pula lahir tokoh-tokoh besar nasional, termasuk almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia, yang dikenal sebagai negarawan ulama, penjaga demokrasi, dan pejuang kemanusiaan. Kehadiran KH Ahmad Azaim Ibrahimy di Tebuireng menjadi simbol estafet perjuangan keulamaan lintas generasi yang terus terjaga hingga hari ini.
Prosesi penyambutan dengan kereta kencana merepresentasikan keterhubungan erat antara ulama, sejarah, dan budaya Nusantara. Nilai-nilai Islam yang berpadu harmonis dengan kearifan lokal tampak nyata, menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama, melainkan medium dakwah yang memperkuat identitas dan persatuan umat.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Jombang, H. Warsubi, S.H., M.Si., menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ia memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini, yang dinilainya memiliki nilai historis, religius, dan kebangsaan yang sangat penting bagi generasi masa kini.
Menurutnya, napak tilas bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan ikhtiar kolektif untuk merawat ingatan sejarah, memperkuat ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah, serta meneguhkan kembali peran ulama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Jombang, sebagai salah satu episentrum sejarah NU, merasa terhormat menjadi bagian dari perjalanan spiritual tersebut.
Ribuan Nahdliyin yang memadati area Pendopo Kabupaten Jombang hingga rute menuju Tebuireng tampak antusias dan terharu menyaksikan momen bersejarah ini. Lantunan shalawat, doa, dan dzikir mengiringi langkah prosesi, menciptakan suasana religius yang menyentuh batin dan memperkuat ikatan emosional antara jamaah, ulama, dan sejarah perjuangan NU.

Bagi warga Nahdliyin, kehadiran KH Ahmad Azaim Ibrahimy dipandang sebagai simbol kesinambungan perjuangan ulama pesantren dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah. Sebagai pengasuh pesantren besar di kawasan tapal kuda Jawa Timur, beliau dianggap merepresentasikan figur ulama yang kokoh dalam tradisi, namun adaptif terhadap dinamika zaman.
Momentum sakral di Jombang ini kembali menegaskan bahwa napak tilas bukanlah agenda seremonial semata. Lebih dari itu, ia merupakan upaya merawat ruh perjuangan, meneguhkan sanad keilmuan, serta menanamkan nilai-nilai keulamaan dan kebangsaan kepada generasi penerus agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Jombang sekali lagi menjadi saksi bahwa spirit pendirian Nahdlatul Ulama tetap hidup, berdenyut, dan terus diwariskan dari satu generasi ulama ke generasi berikutnya. Dalam denyut langkah napak tilas ini, tersimpan harapan besar agar NU senantiasa menjadi penjaga moral bangsa, pengawal Islam rahmatan lil ‘alamin, serta pilar kokoh persatuan Indonesia.
Pewarta: Azis Chemoth














