Bangkalan, – Ribuan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) dari berbagai daerah mengikuti kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama, yang diawali dari Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura, Minggu (4/1/2026).
Dari Situbondo, tampak KHR Ahmad Azaim, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, memimpin barisan terdepan peserta napak tilas. Kiai Azaim merupakan cucu dari KHR As’ad Syamsul Arifin, tokoh sentral dalam sejarah ruhani berdirinya NU. Turut hadir pula Nyi Isya’iyah, putri KHR As’ad Syamsul Arifin.
KHR As’ad Syamsul Arifin memiliki posisi yang sangat penting dan strategis dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Peran beliau dikenal luas sebagai penghubung sanad spiritual, pembawa amanat guru, serta penjaga ruh dan ideologi NU.
Pembawa Isyaroh Pendirian NU
KHR As’ad Syamsul Arifin (1897–1990), pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, dikenal sebagai santri kepercayaan Syaikhona Mohammad Cholil Bangkalan, guru para pendiri NU. Dalam riwayat yang masyhur di kalangan Nahdliyin, KHR As’ad diutus membawa isyaroh spiritual berupa tasbih dan tongkat dari Syaikhona Cholil kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
Tasbih melambangkan dzikir dan doa, sementara tongkat melambangkan kepemimpinan dan perjuangan. Isyaroh ini dipahami sebagai restu dan perintah ruhani untuk mendirikan jam’iyyah ulama guna menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, yang kemudian lahir sebagai Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.

Penjaga Khittah dan Ideologi NU
Setelah NU berdiri, KHR As’ad Syamsul Arifin dikenal sebagai penjaga garis ideologis NU, terutama dalam penguatan akidah Aswaja, fikih bermadzhab, tasawuf sunni, serta loyalitas kepada ulama dan pesantren. Puncak peran ideologis beliau tampak jelas pada Muktamar NU Situbondo 1984, saat beliau menjadi tokoh kunci dalam peneguhan Khittah NU 1926.
Dalam tradisi pesantren, KHR As’ad sering disebut sebagai wasilah dan penjaga api perjuangan NU, yang menghubungkan sanad keilmuan dan ruhani dari Syaikhona Cholil Bangkalan hingga generasi Nahdliyin hari ini.

Rangkaian Napak Tilas
Rangkaian kegiatan napak tilas diawali dengan kedatangan peserta secara mandiri maupun rombongan. Pada sore hingga malam hari, para peserta mengikuti pembacaan tahlil, doa, dan Rotib Syaichona secara berjamaah. Suasana khidmat menyelimuti kawasan pesantren, menegaskan dzikir dan tawassul sebagai ruh perjuangan NU.
Peserta kemudian bermalam di Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil. Ahad (4/1/2026) dini hari, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan serta penyerahan tasbih dan tongkat kepada peserta sebagai simbol dzikir dan ikhtiar perjuangan.

Perjalanan napak tilas dilanjutkan dengan jalan kaki menuju Tanjung Kamal, menyeberang laut menuju Surabaya, serta ziarah dan tahlil di Makam Sunan Ampel. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jombang.
Puncak kegiatan berlangsung di Jombang dengan tahlil dan doa di maqbarah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Rangkaian acara ditutup dengan ceremony penyerahan tongkat dan tasbih sebagai simbol estafet perjuangan ulama dan santri lintas generasi.
Melalui kegiatan napak tilas ini, para Nahdliyin diharapkan semakin meneguhkan nilai keikhlasan, sanad keilmuan, dan khidmah, sekaligus memperkuat komitmen menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.
Pewarta: Azis Chemoth














