global.i-news.site
BANYUWANGI – Suasana Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, tahun ini diwarnai dengan fenomena yang cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak warga memilih untuk tidak menyerahkan hewan kurbannya ke masjid atau musholla untuk disembelih secara kolektif, melainkan memotong dan membagikannya sendiri di lingkungan keluarga atau kelompok kecil.
Berdasarkan penelusuran Global i-News, tren ini terlihat massif di sejumlah desa, di wilayah kecamatan Wongsorejo termasuk Desa Bengkak dan Desa Wongsorejo. Pilihan ini bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh keinginan untuk memastikan daging kurban benar-benar sampai kepada mereka yang berhak, serta menghindari potensi ketidakmerataan dalam distribusi.
Keluhan atas Distribusi di Masjid
Salah satu warga Desa Bengkak, inisial Haji S., mengaku sengaja memilih jalur pemotongan mandiri. Menurutnya, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa pembagian daging kurban di masjid atau musholla seringkali tidak merata.bahkan yang ke tempatan lebih banyak untuk keluarganya sendiri yang menerima daging kurban
“Saya sengaja hewan kurban dipotong sendiri. Soalnya kalau dikumpulkan di masjid atau musholla, cara pembagiannya kadang tidak merata. Seringkali penerima hewan kurban itu banyak yang justru dibagikan kepada keluarga dan kerabat dekat panitia atau orang-orang tertentu,” ungkap Haji S. kepada wartawan, Rabu (28/5/2026).
Haji S. menilai, dengan memotong sendiri, ia bisa lebih leluasa menentukan siapa saja tetangga atau kaum dhuafa di sekitarnya yang benar-benar membutuhkan, tanpa campur tangan birokrasi panitia yang terkadang subjektif.
Sentimen Serupa di Desa Wongsorejo
Keluhan senada juga disampaikan oleh warga Desa Wongsorejo, inisial B. Ia merasakan hal yang sama, di mana mekanisme distribusi kolektif sering kali menimbulkan kecemburuan sosial karena adanya indikasi nepotisme dalam pembagian daging.
“Keluhannya juga sama. Kita ingin ibadah kurban ini murni untuk berbagi kepada yang butuh, bukan untuk ‘balas jasa’ atau bagi-bagi ke saudara sendiri saja,” kata B.
Dampak Sosial dan Hikmah Ibadah
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran kritis masyarakat terhadap esensi ibadah kurban, yaitu kepedulian sosial dan pemerataan rezeki. Meskipun pemotongan mandiri memerlukan usaha lebih besar dari sisi logistik dan tenaga, warga merasa lebih tenang karena yakin daging tersebut dinikmati oleh pihak yang tepat.
Namun demikian, fenomena ini juga menjadi evaluasi bagi takmir masjid dan pemangku Musholla termasuk pemangku masjid,serta panitia kurban di Kecamatan Wongsorejo. Diperlukan transparansi dan sistem pendataan penerima manfaat yang lebih ketat agar kepercayaan masyarakat untuk berkurban melalui masjid dapat kembali pulih di tahun-tahun mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas pemotongan hewan kurban mandiri masih berlangsung di berbagai titik permukiman warga Wongsorejo, dengan suasana yang tetap khidmat dan penuh semangat berbagi.














