banner 728x250
Daerah  

Serapan Solar Bersubsidi Sektor Pertanian di Wongsorejo Pecahkan Rekor Tertinggi di Banyuwangi

global.i-news.site

BANYUWANGI – Memasuki puncak musim kemarau, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, mencatatkan rekor baru dalam hal serapan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk sektor pertanian. Data menunjukkan bahwa kebutuhan solar di wilayah ini melonjak tajam dan menjadi yang tertinggi dibandingkan kecamatan lain di “Bumi Blambangan”.

Lonjakan permintaan ini dipicu oleh kondisi lahan pertanian di Wongsorejo yang sebagian besar merupakan lahan tadah hujan. Akibat minimnya curah hujan, petani menghadapi krisis air irigasi konvensional. Untuk menyelamatkan tanaman padi dan palawija agar tidak gagal panen, para petani terpaksa mengandalkan sumur bor yang dioperasikan menggunakan mesin pompa diesel.

Ketergantungan pada Mesin Pompa Diesel

Penggunaan mesin diesel membutuhkan pasokan solar dalam jumlah besar untuk mengairi sawah secara intensif. Kondisi ini membuat alokasi solar bersubsidi di wilayah Wongsorejo terserap sangat cepat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Danang Hartanto, membenarkan fakta tersebut. Ia menyatakan bahwa pengajuan dan realisasi pembelian solar bersubsidi dari petani di Wongsorejo saat ini menduduki peringkat teratas di seluruh Kabupaten Banyuwangi.

“Ini adalah dampak langsung dari adaptasi petani terhadap musim kemarau. Karena air permukaan kering, mereka beralih ke air tanah menggunakan pompa diesel. Kami memastikan distribusi solar tetap lancar agar produktivitas pertanian tidak terganggu,” ujar Danang Hartanto, Minggu (24/5/2026).

Dominasi SPBU Alasrejo

Berdasarkan data distribusi, tingginya kebutuhan solar tersebar di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Wongsorejo. SPBU 54.684.05 yang berlokasi di Desa Alasrejo mencatatkan angka serapan tertinggi, yakni mencapai 80.601 liter.

Disusul oleh SPBU 54.684.30 di Desa Bajulmati dengan serapan sekitar 54.684 liter, dan SPBU 54.684.16 di Desa Bangsring sebesar 27.848 liter. Angka-angka ini menunjukkan betapa masifnya upaya petani di tiga desa tersebut dalam mempertahankan lahan pertanian mereka di tengah keterbatasan air.

Dampak Positif bagi Produktivitas

Meski biaya operasional meningkat akibat pembelian solar, langkah ini dinilai efektif menjaga produktivitas petani Wongsorejo. Dengan adanya jaminan pasokan air dari sumur bor, tanaman padi tetap tumbuh optimal meski musim kemarau berlangsung. Hal ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga pangan dan pendapatan petani di akhir musim tanam.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pertanian dan Pertamina terus berkoordinasi untuk memastikan kuota solar bersubsidi di wilayah Wongsorejo mencukupi hingga puncak kemarau berakhir. Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan BBM subsidi sesuai peruntukan guna menghindari kelangkaan di kemudian hari.

Catatan: Data volume solar disesuaikan dengan angka yang diberikan dalam prompt. Berita ini menyoroti ketahanan pangan dan adaptasi petani lokal terhadap perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *