Banyuwangi | global.i-news.site – Kelangkaan gas melon 3 kilogram di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, memaksa warga memutar otak demi tetap bertahan. Sejak sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 H hingga memasuki pekan ketiga pasca Lebaran, gas LPG masih sulit diperoleh di warung maupun toko.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh Ijawati, warga RT 03 RW 03 Dusun Karanganyar, Desa Bajulmati. Ia mengaku kebingungan mencari gas LPG untuk menunjang usaha warung nasi bungkus miliknya.
“Saya suruh suami untuk beli gas, sudah keliling ke banyak toko dan warung bahkan sampai ke desa sebelah, tapi hasilnya nihil. Daripada usaha tidak jalan, akhirnya suami bikin tumang dari kaleng roti bekas yang diisi serbuk kayu,” ujar Wati kepada Jurnalnews, Minggu (5/4/2026) di kediamannya.
Langkah kreatif tersebut terpaksa dilakukan agar dapur tetap “mengepul” dan usahanya tidak berhenti total. Dengan metode tradisional itu, ia kembali memasak seperti zaman dulu, meski membutuhkan tenaga dan waktu lebih.
Bahkan, Wati berencana membuat tumang permanen dari bahan batu bata di belakang rumahnya agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada gas LPG. Pasalnya, kebutuhan gas untuk usahanya cukup besar.
“Setiap hari saya masak nasi sekitar 5 kilogram sekali masak, bisa empat sampai lima kali dalam sehari. Warung saya juga melayani pesanan nasi bungkus untuk warung-warung lain,” jelasnya.
Di tengah kesulitan tersebut, Wati berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat dan konkret untuk mengatasi kelangkaan gas LPG 3 kg yang sangat dibutuhkan masyarakat kecil.
“Bagi kami, gas itu seperti nyawa. Kami berharap distribusi gas bisa kembali normal seperti semula,” pungkasnya. (Venus)














