Situbondo – Di tengah gemerlap industri tembakau nasional yang terus mencatatkan nilai ekonomi besar, tersimpan paradoks yang selama ini jarang disentuh secara serius: kesejahteraan petani sebagai fondasi utama justru tertinggal jauh di belakang.
Industri ini besar, tetapi belum sepenuhnya adil. Ia tumbuh pesat, namun tidak merata. Nilai tambah mengalir deras ke hilir, sementara hulu para petani masih bergulat dengan ketidakpastian harga dan posisi tawar yang lemah.
Bagi HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (BARONG GRUP), realitas ini bukan sekadar data statistik. Ini adalah pengalaman hidup.
“Masalahnya bukan pada petani. Masalahnya ada pada sistem,” tegasnya dalam sebuah pernyataan visioner yang kini mulai menggugah diskursus industri.
Struktur yang Timpang: Ketika Nilai Tambah Tidak Kembali ke Akar
Selama puluhan tahun, relasi antara petani dan industri rokok terbangun dalam pola yang timpang. Petani hanya berfungsi sebagai pemasok bahan baku tanpa kendali atas harga, tanpa akses terhadap nilai tambah, dan tanpa posisi strategis dalam rantai produksi.
Tembakau dibeli murah, sering kali dengan standar yang tidak transparan. Sementara itu, produk akhirnya dijual dengan harga tinggi di pasar bahkan kepada komunitas yang sama yang menanamnya.
Fenomena ini menciptakan ironi struktural:
Petani tetap berada dalam lingkaran ekonomi bawah
Industri terus mengakumulasi keuntungan di level atas
Di wilayah seperti Madura yang dikenal sebagai salah satu sentra tembakau terbesar realitas ini tampak paling kontras. Produksi tinggi tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya.
Pasar yang Tertekan dan Lahirnya Ekonomi Bayangan
Tekanan tidak hanya terjadi di hulu, tetapi juga di hilir.
Dengan harga rokok legal yang terus meningkat hingga kisaran Rp20 ribu per bungkus, daya beli konsumen yang mayoritas berasal dari kelas pekerja semakin tergerus. Ketidakseimbangan ini memicu distorsi pasar.
Dalam kondisi seperti itu, muncul fenomena yang tak terelakkan: peredaran rokok ilegal.
Alih-alih sekadar pelanggaran hukum, fenomena ini dipandang sebagai sinyal kegagalan sistem dalam menyediakan produk legal yang terjangkau dan adil.
“Ketika produk legal tidak bisa dijangkau, pasar akan menciptakan jalannya sendiri,” ujar Khalilur.
Namun, ia menolak menjadikan ilegalitas sebagai solusi.
Model Baru: Industrialisasi dari Bawah Berbasis UMKM
Sebagai jawaban atas ketimpangan struktural tersebut, Khalilur menawarkan pendekatan yang radikal namun terukur: membangun industri dari bawah melalui pengembangan ribuan pabrik rokok skala UMKM di daerah penghasil tembakau.
Konsep ini mengusung tiga pilar utama:
1. Dekat dengan Sumber Produksi
Pabrik dibangun di sekitar sentra tembakau, memangkas rantai distribusi dan memperkuat posisi tawar petani.
2. Harga Bahan Baku Lebih Adil
Dengan kedekatan geografis dan relasi langsung, petani berpeluang mendapatkan harga jual yang lebih layak dan transparan.
3. Produk Terjangkau, Tetap Legal
Efisiensi biaya produksi memungkinkan harga jual yang lebih rendah tanpa harus keluar dari sistem legal.
Mengoreksi Struktur, Bukan Sekadar Memperbesar Skala
Pendekatan ini bukan sekadar ekspansi industri, melainkan upaya koreksi struktural.
Alih-alih terpusat pada korporasi besar, industri didorong menjadi:
Terdistribusi
Inklusif
Berbasis komunitas lokal
Jika dijalankan secara masif, model ini diyakini mampu:
Mengangkat kesejahteraan petani
Mengurangi ketergantungan pada pemain besar
Menekan peredaran rokok ilegal
Menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih resilien
Dari Idealisme ke Implementasi
Berbeda dari sekadar wacana, inisiatif ini diklaim telah mulai dijalankan secara bertahap melalui jaringan yang dibangun oleh BARONG GRUP.
Khalilur menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar proyek bisnis, melainkan misi sosial-ekonomi jangka panjang.
“Industri tidak boleh hanya dinilai dari seberapa besar keuntungan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa adil manfaat itu dibagikan,” ujarnya.
Menuju Kedaulatan Industri Tembakau Nasional
Gagasan ini membuka ruang diskusi baru tentang arah masa depan industri tembakau Indonesia. Bahwa kedaulatan tidak cukup diukur dari besarnya produksi atau dominasi pasar, tetapi dari keseimbangan distribusi manfaat di seluruh rantai nilai.
Di titik ini, peran negara juga menjadi krusial bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator yang mendorong tumbuhnya struktur industri yang lebih adil dan merata.
Penutup: Revolusi yang Dimulai dari Akar
Transformasi besar sering kali tidak dimulai dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggiran dari ladang, dari komunitas, dari mereka yang selama ini tidak terdengar.
Industri tembakau Indonesia kini dihadapkan pada pilihan: melanjutkan sistem lama yang timpang, atau membangun ulang fondasi yang lebih berkeadilan.
Dan jika perubahan itu benar-benar terjadi, maka sejarah mungkin akan mencatat bahwa revolusi industri ini tidak lahir dari pabrik besar melainkan dari keberanian untuk memulai dari bawah.














