Situbondo – Ketika sebuah masyarakat mulai merasa nyaman dengan pengkhianatan, sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan keruntuhan diam-diam dari struktur moral yang selama ini menopang peradaban. Selingkuh yang dulu dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap komitmen, kini perlahan direduksi menjadi sesuatu yang lumrah dibungkus dengan istilah “khilaf”, “fase hidup”, atau bahkan “hak personal”. Di titik inilah, kita tidak lagi sekadar menghadapi individu yang salah arah, tetapi sebuah ekosistem nilai yang mulai kehilangan kompasnya.
Di tengah situasi ini, muncul satu dalih yang kerap diulang dengan nada seolah bijak: “jangan membuka aib orang lain.” Kalimat ini, pada tempatnya, adalah prinsip luhur. Ia menjaga martabat dan menghindarkan manusia dari budaya saling menjatuhkan. Namun, ketika prinsip tersebut digunakan tanpa konteks, ia berubah fungsi dari penjaga kehormatan menjadi pelindung kemungkaran.
Tidak semua yang disebut membuka aib adalah tindakan tercela. Ada perbedaan mendasar antara mengumbar aib demi sensasi dengan mengungkap kebenaran demi perbaikan. Yang pertama lahir dari dorongan merendahkan, yang kedua dari tanggung jawab moral. Menyamakan keduanya adalah kekeliruan serius yang membuka ruang bagi kedzoliman untuk terus berlangsung tanpa koreksi.
Di sinilah relevansi amar ma’ruf nahi mungkar menjadi sangat penting. Ia bukan tindakan sembarangan, melainkan prinsip etik yang menuntut niat yang lurus, metode yang bijak, dan tujuan yang konstruktif. Menegur bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk meluruskan. Mengingatkan bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyelamatkan nilai.
Ketika selingkuh dianggap kaprah, kita sedang menyaksikan pergeseran standar moral. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh nilai, tetapi oleh kebiasaan. Jika cukup sering terjadi, maka kesalahan dianggap wajar. Inilah bentuk paling halus dari degradasi moral ketika penyimpangan tidak lagi terasa sebagai penyimpangan.

Ironisnya, dalam banyak kasus, pihak yang berusaha mengingatkan justru disalahkan. Mereka dianggap membuka aib, memperkeruh suasana, bahkan dituduh tidak bijak. Sementara pelaku mendapatkan ruang pembelaan dengan narasi yang simpatik. Terjadi pembalikan logika: yang benar ditekan, yang salah dilindungi.
Padahal, selingkuh bukan sekadar persoalan pribadi. Ia adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan fondasi utama dalam setiap relasi. Ketika pengkhianatan ini dinormalisasi, maka kepercayaan sebagai nilai sosial ikut runtuh. Relasi menjadi rapuh, dipenuhi kecurigaan, dan kehilangan makna ketulusan.
Budaya permisif memperparah keadaan. Media sosial membuka peluang interaksi tanpa batas, budaya populer mengemas perselingkuhan sebagai drama yang menarik, dan lingkungan sosial seringkali gagal memberikan batas tegas antara benar dan salah. Dalam kondisi seperti ini, diam sering dianggap pilihan aman. Padahal, diam bisa menjadi bentuk pembiaran.
Namun demikian, amar ma’ruf nahi mungkar tetap harus dijalankan dengan etika. Ia tidak boleh menjadi alat untuk mempermalukan atau menyerang tanpa dasar. Harus ada verifikasi, kejelasan niat, dan cara yang proporsional. Tanpa itu, yang terjadi bukan perbaikan, melainkan konflik baru yang justru merusak.

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan mendasar: apakah akan terus berlindung di balik dalih menjaga aib, atau berani menegakkan kebenaran dengan cara yang bermartabat. Karena menjaga aib bukan berarti menyembunyikan kesalahan yang merusak, dan menegakkan kebenaran bukan berarti membuka aib tanpa batas.
Jika selingkuh terus dianggap lumrah, dan setiap upaya pelurusan dibungkam, maka kita sedang membangun masyarakat yang kehilangan arah moral. Generasi yang lahir dari kondisi ini akan tumbuh tanpa kejelasan nilai tidak lagi mampu membedakan mana yang harus dijaga dan mana yang harus diluruskan.
Dan ketika itu terjadi, kepercayaan akan menjadi barang langka, kesetiaan dianggap ilusi, dan integritas dipandang sebagai beban. Karena masyarakat yang gagal membedakan antara menutup aib dan menutup kebenaran, pada akhirnya akan kehilangan keduanya sekaligus.
Sebab peradaban tidak runtuh karena banyaknya orang jahat, tetapi karena terlalu banyak orang baik yang memilih diam.














